Masjid Raya Al Mashun Medan merupakan salah satu ikon wisata religi paling terkenal di Kota Medan, Sumatera Utara. Bangunan megah ini bukan hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga menjadi saksi bisu perjalanan sejarah panjang Kesultanan Deli.
Masjid ini memiliki arsitektur yang unik. Gaya arsitekturnya terinspirasi dari Timur Tengah, India, dan Eropa.
Banyak orang menyebutnya sebagai salah satu masjid terindah di Indonesia. Selain itu, masjid ini juga merupakan masjid tertua yang masih berdiri kokoh di Medan.
Berlokasi dekat Kompleks Istana Maimun, Masjid Raya Medan adalah tempat yang wajib dikunjungi. Wisatawan lokal dan asing datang untuk belajar tentang sejarah dan budaya Islam di Sumatera Utara. Jika Anda merencanakan perjalanan ke Medan, Anda bisa mengombinasikan kunjungan ini dalam paket wisata Medan yang ditawarkan oleh Gondrong Tour.
Sejarah Masjid Raya Al Mashun
Sejarah Masjid Raya Al Mashun tidak dapat dipisahkan dari kejayaan Kesultanan Deli. Pembangunan masjid ini dimulai pada tahun 1906 atas prakarsa Sultan Deli ke-9, yaitu Sultan Ma’mun Al Rasyid Perkasa Alamsyah. Beliau dikenal sebagai pemimpin visioner yang ingin menghadirkan pusat ibadah yang megah sekaligus simbol kebesaran Islam di Medan.
Masjid ini resmi selesai dan digunakan pada tahun 1909, menjadikannya salah satu bangunan bersejarah terpenting di Kota Medan. Pada masa itu, Masjid Raya Medan menjadi pusat kegiatan keagamaan, pendidikan Islam, serta acara-acara besar kesultanan.
Hingga kini, masjid ini tetap difungsikan sebagai tempat ibadah utama umat Muslim dan menjadi destinasi wisata religi unggulan di Sumatera Utara.
Arsitektur dari Masjid Al Mashun
Daya tarik utama Masjid Raya Al Mashun Medan terletak pada gaya arsitekturnya yang sangat khas dan berbeda dari masjid-masjid lain di Indonesia. Masjid ini dirancang oleh arsitek Belanda ternama, Theodoor van Erp, yang juga dikenal sebagai arsitek restorasi Candi Borobudur.
Bangunan masjid memiliki bentuk dasar segi delapan, yang melambangkan keseimbangan dan kesempurnaan. Kubah utamanya berwarna hitam pekat dengan sentuhan ornamen khas Timur Tengah dan India Mughal. Selain itu, terdapat beberapa kubah kecil yang mengelilingi kubah utama, menambah kesan megah dan simetris.
Material bangunan sebagian besar diimpor dari Eropa, seperti marmer Italia, lampu gantung dari Prancis, serta pintu dan jendela bergaya Moorish. Kombinasi unsur Timur Tengah, India, dan Eropa inilah yang membuat arsitektur Masjid Al Mashun terlihat sangat eksotis dan elegan.
Apa Keunikan Masjid Raya Al Mashun Medan?
Keunikan Masjid Raya Medan tidak hanya terletak pada usianya yang lebih dari satu abad, tetapi juga pada detail arsitektur dan nilai sejarahnya. Berikut beberapa keunikan yang membuatnya istimewa:
Masjid tertua dan bersejarah
Masjid ini merupakan salah satu masjid tertua di Kota Medan yang masih aktif digunakan hingga saat ini.
Perpaduan budaya dunia
Unsur arsitektur Timur Tengah, India, dan Eropa berpadu harmonis dalam satu bangunan.
Bagian dari kawasan sejarah
Lokasinya yang berdekatan dengan Kompleks Istana Maimun menjadikan masjid ini bagian dari pusat sejarah Kesultanan Deli.
Interior megah dan klasik
Ornamen kaligrafi, lampu gantung antik, dan mihrab berukir menambah kesan sakral dan berwibawa.
Tak heran jika masjid raya al mashun medan sering menjadi objek penelitian sejarah, arsitektur, hingga fotografi.
Informasi sejarah resmi masjid ini juga dapat ditemukan melalui referensi tepercaya seperti Wikipedia Masjid Raya Al Mashun sebagai rujukan tambahan yang kredibel untuk wisatawan dan peneliti.
Lokasi Masjid Raya Al Mashun
Masjid Raya Medan berlokasi strategis di pusat Kota Medan, tepatnya di Jalan Sisingamangaraja, Kecamatan Medan Kota. Akses menuju masjid sangat mudah karena berada di jalur utama dan dekat dengan berbagai fasilitas umum.
Dari Bandara Internasional Kualanamu, perjalanan menuju masjid memakan waktu sekitar 45–60 menit. Wisatawan juga dapat mengunjungi Kompleks Istana Maimun dan Makam Raja-Raja Deli dalam satu rangkaian wisata sejarah karena lokasinya yang saling berdekatan.
Aturan Pengunjung
Sebagai tempat ibadah aktif, pengunjung Masjid Raya Medan diwajibkan mematuhi beberapa aturan demi menjaga kesakralan dan kenyamanan bersama, antara lain:
- Menggunakan pakaian sopan dan tertutup
- Melepas alas kaki sebelum memasuki area masjid
- Menjaga ketenangan dan tidak berisik
- Tidak mengganggu jamaah yang sedang beribadah
- Mengikuti arahan petugas masjid
Bagi wisatawan non-Muslim, tetap diperbolehkan masuk ke area masjid dengan mengikuti aturan yang berlaku.
Spot Foto Masjid Raya Al Mashun
Bagi pecinta fotografi, Masjid Raya Al Mashun Medan menawarkan banyak spot foto menarik dan instagramable. Beberapa spot favorit antara lain:
- Tampak depan masjid dengan kubah hitam megah
- Detail kubah dan ornamen arsitektur yang kaya motif
- Interior masjid dengan lampu gantung klasik
- Area halaman masjid dengan latar langit biru atau senja
- Sudut segi delapan bangunan yang unik dan simetris




Waktu terbaik untuk berfoto adalah pagi hari atau menjelang sore saat cahaya matahari memberikan efek dramatis pada bangunan masjid.
Kesimpulan
Mengunjungi Masjid Raya Al Mashun Medan bukan hanya perjalanan wisata, tetapi juga pengalaman spiritual dan sejarah yang mendalam. Masjid ini menjadi bukti kejayaan Islam di Sumatera Utara serta warisan berharga dari Sultan Al Rasyid Perkasa dan Kesultanan Deli. Jika Anda berkunjung ke Kota Medan, pastikan Masjid Raya Medan masuk dalam daftar destinasi wajib Anda.

